Ini tentang kisah kehilangan. Ketika kau mendapati separuh hatimu kosong tak berintang. Senada, sealun cinta bernostalgia. Bukan Cinta dengan kekasih, bukan pula Cinta dengan nafsu bergemuru. Ini.. tentang Cinta persahabatan. Aku memang bukan orang yang pintar dalam berbahasa inggris, tapi kamu mengajariku, menuntun jemariku hingga berhasil ku torehkan dengan penaku sebuah kalimat dengan susunan huruf abjad F-R-I-E-N-D yang dapat kuartikan sebagai TEMAN . Aku menyunggingkan senyum kearahmu, sedikit protes karena kamu selalu saja berkomentar tentang caraku berucap bahasa inggris. Selalu saja serba salah dimatamu, tapi aku suka itu..
Caramu menatapku, caramu mencairkan suasana yang tadinya
sedingin es menjadi secarik tawa yang tidak pernah bisa aku binasakan. Memori
otak ini terus berputar seiring waktu yang terus berjalan, hingga nama
panggilan itu benar-benar melekat di dalam diriku. Sebuah nama yang sebenarnya
tidak sangat penting untuk diketahui, sebuah nama yang mungkin hanya aku saja
yang dapat merasakan betapa berartinya kalimat itu.
Aku sadar, aku hanyalah 1% dari miliyaran orang yang pernah
menjalin hubungan persahabatan denganmu. Aku hanyalah sekecil serpihan abu yang
mungkin tidak mempunyai nilai besar dimatamu, aku takut. Benar-benar takut.
Sangat amat takut bila kamu melupakanku, melupakan kenangan kita. Bila
persahabatan harus meninggalkan luka, aku rela. Aku rela bila menjadi orang
pertama yang kamu salahkan atas perpisahan ini, tetapi aku tidak rela jika aku
menjadi orang pertama yang kamu abaikan dalam kisah kita.
Tegarlah! Senyumlah! Bulsyit. Untuk apa sebaris kalimat itu
jika hati ini menangis? Hanya orang bodoh yang berpura-pura tegar dan
menunjukkan senyumannya bila dihadapkan oleh kenyataan sepahit ini. Aku dan
kamu, tidak ditakdirkan berada dalam satu kisah yang indah. Seharusnya dari
awal kita sadar, bahwa akhir dari segala akhir ini adalah Perpisahan. Seharusnya
kita sadar, bahwa mungkin hari ini adalah terakhir kali kita berkumpul bersama.
Seharusnya kita sadar, kita tidak bisa melawan skenario yang sudah tuhan
rancang. Seharusnya......
Pelupuk mataku semakin memanas, seakan-akan sebentar lagi
akan ada buliran air yang jatuh dari kelopaknya. Buat apa berlari dalam kelam
sedang kabut pun tak mau menyibak? Andai saja aku tidak mempunyai memori otak
sepermanen ini, andai saja aku tidak mengenal kalian... Arrgghh. Tolong buat
aku melupakan kamu, aku benci semua ini! Benci! Bahkan aku membenci diriku
sendiri karena tidak bisa melakukan lebih dari ini. Bila mati adalah jalan
keluar satu-satunya, aku siap. Tapi sayangnya, aku bukan orang bodoh yang
melakukan hal setragis itu. Aku adalah anak pintar, aku adalah anak genius bila
aku... berada disekelilingmu:’) Namun bila tidak? HANCURLAH AKU!
Duniaku terasa berubah. Mengenalmu
membuatku mengerti artinya Persahabatan! Menjalin suatu persahabatan denganmu
adalah satu hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Hampir aku menyerah, hampir
aku berputus asa. Namun hati kecil ini selalu ingkar, selalu berkata ‘Jangan
pergi.. tetaplah disini bersama temanku. Dan temanku adalah hati dari
sahabat-sahabat terbaikmu’ SKAKMAT! Aku terlalu bodoh tuhan... Mengapa hati ini
selalu ingkar dengan apa yang aku ucapkan?. Aku hanya bisa menangis meratapi
hari-hariku yang mungkin sebentar lagi akan terasa asing, aku menghapus air
mataku dan mencoba mengingat kalimat ini “Apapun yang terjadi, nikmati
hidup ini. Hapus air mata. Berikkan senyummu. Kadang, senyum terindah datang
setelah air mata penuh luka”
Dalam hidup, ada hal yang datang
dengan sendirinya. Namun ada juga hal yang harus dperjuangkan untuk
mendapatkannya, aku sangat menyesal pernah mendengar kata SAHABAT. Aku mengutuk
diriku sendiri karena kini diriku terkunci didalamnya, terkunci dalam
kerinduan. Aku mendengar kembali sebaris kata itu, SAHABAT. Bahagialah melebihi
kebahagiaanku, Sahabat. SAHABAT yang aku perjuangkan, namun kini tidak dapat
aku pertahankan :’(
-Tink