Selasa, 25 Juni 2013

Kamu, Runtuhkan Pertahananku.


Ini tentang kisah kehilangan. Ketika kau mendapati separuh hatimu kosong tak berintang. Senada, sealun cinta bernostalgia. Bukan Cinta dengan kekasih, bukan pula Cinta dengan nafsu bergemuru. Ini.. tentang Cinta persahabatan. Aku memang bukan orang yang pintar dalam berbahasa inggris, tapi kamu mengajariku, menuntun jemariku hingga berhasil ku torehkan dengan penaku sebuah kalimat dengan susunan huruf abjad F-R-I-E-N-D yang dapat kuartikan sebagai TEMAN . Aku menyunggingkan senyum kearahmu, sedikit protes karena kamu selalu saja berkomentar tentang caraku berucap bahasa inggris. Selalu saja serba salah dimatamu, tapi aku suka itu..

Caramu menatapku, caramu mencairkan suasana yang tadinya sedingin es menjadi secarik tawa yang tidak pernah bisa aku binasakan. Memori otak ini terus berputar seiring waktu yang terus berjalan, hingga nama panggilan itu benar-benar melekat di dalam diriku. Sebuah nama yang sebenarnya tidak sangat penting untuk diketahui, sebuah nama yang mungkin hanya aku saja yang dapat merasakan betapa berartinya kalimat itu.

Aku sadar, aku hanyalah 1% dari miliyaran orang yang pernah menjalin hubungan persahabatan denganmu. Aku hanyalah sekecil serpihan abu yang mungkin tidak mempunyai nilai besar dimatamu, aku takut. Benar-benar takut. Sangat amat takut bila kamu melupakanku, melupakan kenangan kita. Bila persahabatan harus meninggalkan luka, aku rela. Aku rela bila menjadi orang pertama yang kamu salahkan atas perpisahan ini, tetapi aku tidak rela jika aku menjadi orang pertama yang kamu abaikan dalam kisah kita.

Tegarlah! Senyumlah! Bulsyit. Untuk apa sebaris kalimat itu jika hati ini menangis? Hanya orang bodoh yang berpura-pura tegar dan menunjukkan senyumannya bila dihadapkan oleh kenyataan sepahit ini. Aku dan kamu, tidak ditakdirkan berada dalam satu kisah yang indah. Seharusnya dari awal kita sadar, bahwa akhir dari segala akhir ini adalah Perpisahan. Seharusnya kita sadar, bahwa mungkin hari ini adalah terakhir kali kita berkumpul bersama. Seharusnya kita sadar, kita tidak bisa melawan skenario yang sudah tuhan rancang. Seharusnya......

Pelupuk mataku semakin memanas, seakan-akan sebentar lagi akan ada buliran air yang jatuh dari kelopaknya. Buat apa berlari dalam kelam sedang kabut pun tak mau menyibak? Andai saja aku tidak mempunyai memori otak sepermanen ini, andai saja aku tidak mengenal kalian... Arrgghh. Tolong buat aku melupakan kamu, aku benci semua ini! Benci! Bahkan aku membenci diriku sendiri karena tidak bisa melakukan lebih dari ini. Bila mati adalah jalan keluar satu-satunya, aku siap. Tapi sayangnya, aku bukan orang bodoh yang melakukan hal setragis itu. Aku adalah anak pintar, aku adalah anak genius bila aku... berada disekelilingmu:’) Namun bila tidak? HANCURLAH AKU!

Duniaku terasa berubah. Mengenalmu membuatku mengerti artinya Persahabatan! Menjalin suatu persahabatan denganmu adalah satu hal terbodoh yang pernah aku lakukan. Hampir aku menyerah, hampir aku berputus asa. Namun hati kecil ini selalu ingkar, selalu berkata ‘Jangan pergi.. tetaplah disini bersama temanku. Dan temanku adalah hati dari sahabat-sahabat terbaikmu’ SKAKMAT! Aku terlalu bodoh tuhan... Mengapa hati ini selalu ingkar dengan apa yang aku ucapkan?. Aku hanya bisa menangis meratapi hari-hariku yang mungkin sebentar lagi akan terasa asing, aku menghapus air mataku dan mencoba mengingat kalimat ini “Apapun yang terjadi, nikmati hidup ini. Hapus air mata. Berikkan senyummu. Kadang, senyum terindah datang setelah air mata penuh luka”

Dalam hidup, ada hal yang datang dengan sendirinya. Namun ada juga hal yang harus dperjuangkan untuk mendapatkannya, aku sangat menyesal pernah mendengar kata SAHABAT. Aku mengutuk diriku sendiri karena kini diriku terkunci didalamnya, terkunci dalam kerinduan. Aku mendengar kembali sebaris kata itu, SAHABAT. Bahagialah melebihi kebahagiaanku, Sahabat. SAHABAT yang aku perjuangkan, namun kini tidak dapat aku pertahankan :’(

-Tink

Sayap Perpisahan.

Sayatan hangat begitu menyentuh persahabatan yang tidak pernah berujung kepada kesengsaraan juga kebahagiaan ini. Aku terdiam, menghitung mundur waktu yang tidak pernah bisa untuk diputar ulang kembali. Sebuah tragedi persahabatan antara 8 insan manusia. Semua terjadi begitu cepat, tanpa teori dan banyak basa-basi. Aku melihatmu, mengenalmu, lalu merasakan hangatmu. Sesederhana itulah kamu mulai menguasai hari-hariku. Kamu jadi penyebab rasa semangatku. Kamu menjelma jadi senyum yang tak bisa kujelaskan dengan kata-kata. Kamu mengepakkan sayap-sayap persahabatan ini, membuat hal yang mati menjadi terasa berarti. Aku merasa... aku baru saja mengenalmu, menjalin persahabatan ini dari pertama kita bertemu.

Aku tahu, aku terlalu naif jika membahas semua tentang kita. Bukankah itu wajar? Kamu teramat sangatlah berharga melebihi intan berlian dilangit, aku banyak belajar dari cerita-cerita yang kubuat. Seperti kata pepatah, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Aku hanya memberikan kenyataannya, tapi kamu seakan tidak perduli dan membenci perpisahan ini. Semacam guilty pleasure, orang benci, tapi engga ada satupun yang bisa menghindarinya.

Tiba-tiba saja bayangan kelam melintas dihadapanku, kabut kelam yang seperti menarikku menjauh dari persahabatan ini. Aku terus memberontak, tapi cengkraman itu semakin kuat. Membuat sebuah goresan pedih dari indahnya persahabatan. Air mataku menetes, entah mengapa tiba-tiba saja aku menjadi cengeng seperti ini. Aku hanya kalut, aku takut. Kamu benar-benar membuatku merasakan betapa sempurnanya persahabatan, bersamamu membuat hari gelapku bersinar seperti sang mentari yang menyinari dunianya. Hanya bersamamu, semua terasa nyata, semua ada. Dan hanya bersamamu, aku lebih mengerti bahwa hidup terlalu singkat untuk dipahami.

Ku kepakkan sayap-sayap yang hanya tinggal kerangka ini, terbang menjauh menghindari goyakan takdir yang membuatku diam tak berkutik. Denting alunan suaramu begitu teringat, begitu ragu untuk aku mempercayai bahwa perpisahan ini benar-benar akan terjadi. Mulutku terbungkam, diam seribu bahasa dengan air mata yang berjuta-juta kali kuseka namun apa daya. Tuhan, berilah aku kesempatan. Jika aku dapat bertemu dengan mereka satu kali lagi, akan aku teriakkan sekuat-kuatnya bahwa dalam deru nafas ini hanya mereka yang akan terjaga. Tuhan, andai engkau memberikan aku kesempatan satu kali lagi, akan aku ceritakan kepada dunia, aku bangga memiliki sahabatan seperti mereka.

“Jangan pernah lupakan aku yaaa kawan, pihong yang selalu rese, selalu bawel, suka marah-marah dan mungkin terkadang mengesalkan kalian. Maaf untuk semuanya, untuk semua hal yang aku anggap benar namun salah dimata kalian. Aku mengerti, aku paham. Bahwa mungkin memang sayap persahabatan ini sudah tersiksa, dan ingin segera bebas. Ingin segera menjauh menyusul bidadari-bidadari cantik yang telah menunggu mahkotanya kembali, dan kalian adalah mahkota itu”

Dari seorang gadis yang selalu menantikan keajaiban itu terjadi, menantikan sayap-sayap persahabatan itu dapat utuh dan kita bisa bersama kembali.

 -Tink