Jumat, 25 Oktober 2013

Selamat Tinggal, Kamu.

Kamu yang membuat aku jatuh cinta, dan kamu pula yang membuat cinta ini lara seperti serpihan kaca. Kamu yang membuat aku tersenyum, kamu yang membuat aku tertawa. Namun secara sadar, kamu pula lah yang membuat aku menangis. Seperti ibarat sebuah perahu, perahu yang bergerak tenang diatas ombak namun tanpa sadar, ombak itu justru mampu menenggelamkannya~ begitulah cinta, aku tahu bahwa cinta indah namun pasti akan menyakitkan nantinya. Seperti perahu itu, pasti pengemudi perahu sudah tahu bahwa ombak mampu menenggelamkan perahunya, namun dia tetap senang berlayar diatas ombak. Dan perahu itu, pasti juga punya masa lalu. Entah masa lalu yang pahit, mungkin masa lalu seperti kecelakaan perahu dan menewaskan banyak orang yang ikut berlayar diatasnya. Begitu pula dengan aku, Masa lalu aku adalah kamu. Masa lalu kamu? Mungkin bukan aku. Pasti bukan aku. Aku hanya dijadikan sebuah Figuran yang hanya “lewat” dalam kehidupanmu, tanpa pernah kamu tahu bahwa Figuran itu ternyata adalah orang yang menyayangimu~

Dan tahu apa yang lebih menyakitkan lagi? Ketika orang yang kamu sayangi tiba-tiba menghampirimu, bukan itu berbicara hal yang indah. Melainkan berbicara hal pahit yang sama sekali belum diketahui kebenarannya. Dan ketika aku berada diposisi itu, sangat sakit rasanya. Dia lebih percaya dan membela gadis yang baru beberapa bulan kenal dengannya. Sedangkan aku? Sudah hampir satu tahun kami dekat, tapi apa pilihannya? Sangat mengecewakan. Dan setiap orang, pasti punya caranya masing-masing untuk mengungkapkan kekecewaan itu. Menjauh dan menghindar, itu caraku mengungkapkannya.

Salah satu temanku pernah berkata, bahwa jika aku menghindar dan menjauh, berarti aku bukan termasuk gadis yang kuat(dibaca kuat perasaan). Tak ada yang salah memang, tapi bukankah menjauh adalah cara terbaik untuk masalah ini? Jika aku kembali berbicara lagi dengannya tapi ternyata dia kembali mempercayai orang yang bukan aku, bukankah itu sakit? Dan aku tak ingin memilih itu. Jika ada satu pilihan terakhir, jika waktu bisa diputar ulang kembali, aku tidak ingin kejadian pada tanggal 23 Oktober itu memecah belah “pertemanan” kita. Tapi sayang, itu semua hanya Delusi. Sepadam lilin yang mati karena tertiup angin, seperti itulah cinta ini berakhir~

                                                                                                                                                          -Tink