Aku berjalan di lorong-lorong gelap, seakan dikelilingi oleh
lintasan masa lalu. Aku benar-benar tak mengerti, bukankah aku seharusnya
membencimu? Jujur saja, aku tidak pernah berpikir bahwa semua akan sejauh ini.
Saat kita mulai memisahkan diri, saat adanya pertengkaran, saat itulah kamu
mengatakan “Aku Cinta Kamu”. Saat yang tidak tepat. Iya aku akui, dulu. Aku
memang mencintaimu. Aku menunggumu. Tapi untuk akhir-akhir yang membuat aku
membencimu, rasa suka itu telah lenyap. Tetapi mengapa kamu baru mengungkapkan
semua itu sekarang?, mengungkapkan bahwa ternyata hal yang aku tunggu tak
sia-sia. Saat aku mulai menghindar darimu, saat perlahan aku mulai membencimu.
Mengapa harus saat itu?. Dulu saat kita tertawa bersama, canda bersama, hey boy
kemana saja kamu?. Oke, aku tak bisa munafik. Aku meminta sedikit waktu untuk
menjawab hal yang serius itu. Tetapi sudah beberapa hari berlalu, aku tak
pernah menjawabnya. Dan kau pula tak pernah menangih jawabannya. Dan keesokan
harinya, semua teman-teman sekolah berucap bahwa kamu telah bilang kepada
mereka, aku dan kamu menjalin hubungan lebih dari teman.
Aku bingung. Bukankah aku sama sekali tak pernah menjawab
pertanyaan konyol itu? Tapi, kamu sudah menggunakan panggilan “aku-kamu”.
Jujur, sebenarnya aku masih sakit dengan kejadian sebelum kamu mengungkapkan
semuanya. Jujur saja, aku ingin sekali mengatakan “tidak”. Tapi, bagaimana bisa aku mengatakan
itu sementara kamu telah menganggap aku dan kamu sudah menjadi “kita”?. Dan
akhirnya, aku hanya mengikuti alur perasaanmu. Mengabaikan alur perasaanku
sendiri. Apakah kamu tahu, semuanya terlambat? Kamu terlambat menyatakan
perasaanmu. Saat aku sendiri sudah menyadari, bahwa ternyata dulu aku bukan
mencintaimu. Aku hanya mengagumimu.
Hari demi hari berlalu sebagai sepasang kekasih. Aku selalu
menghindar bila bertemu denganmu. Aku sungguh bukan ingin mempermainkan
perasaanmu, aku hanya ingin meyakini hatiku sendiri bahwa “aku rindu saat kita
menjadi teman dulu”. Saat jam istirahat, kamu selalu mencariku ke kelas, tetapi
kamu tak menemukanku. Aku memang sengaja menghindar. Semua ini membuatku merasa
sangat jahat kepadamu, kamu seperti tak terlihat oleh ku. Sampai suatu saat,
kamu memberi sebuah benda yang melingkar kepadaku. Seperti pria romantis yang
lain. Tapi sadarkah kamu? Bila aku melihat benda itu, aku merasa sangat jahat.
Aku ingin mengakhiri semua ini, tapi disisi lain aku takut bila kita menjadi
musuh. Tuhah, semua ini begitu rumit. Aku tak bisa memainkan perasannya hanya
karena sebuah status. Mungkin diantara teman-temanku yang lain, nasibku lah
yang paling beruntung. Iya karena orang yang aku cintai selama ini, ternyata
mencintaiku. Tapi mereka tak mengerti, bahwa cinta ini terlambat untuk di akui.
Sangat terlambat. Maaf, mungkin aku tak bisa menjadi apa yang kamu harapkan
untuk “sekarang” ini. Walau mungkin untuk “dulu” masih bisa. Tapi, mungkin ini
skenario yang sudah dirancang tuhan. Kamu terlambat mengungkapkan semuanya saat hatiku tak lagi bermuara untukmu.
-Tink