Kamis, 01 Agustus 2013

Terluka.

Sudah lama sekali aku tidak memainkan jemari untuk kembali menulis disini. Entahlah, mungkin saat itu perasaanku sedang kalut. Hanya ingin berdiam diri dengan degup jantung sebagai musik pengantar tidur. Seperti halnya kali ini, aku menulis ini bukan dalam keadaan bahagia namun aku menulis ini dalam keadaan 360 derajat berbanding balik dengan kata “bahagia”. Diawal bulan Agustus ini, sepertinya semua harapanku tak terkabul. Harapan untuk tak ada lagi yang saling membenci, saling membully. Kami saling menyayangi, aku tahu. Tapi, pemandangan di depanku  ini seakan memberi kenyataan yang lain.

Satu persatu dari kami mulai menjauh, mulai menghilang diantara kepulan asap hitam yang begitu menyakitkan. Apakah kamu tau Definisi sakit? Devinisi khawatir?, khawatir akan keutuhan persahabatan yang sudah kita jalin selama satu tahun ini. Bukankah sia-sia jika kita mengganjilkan maknanya? Itupun tak akan pernah merubah keputusanmu untuk memilihnya, bukan memilih kami. Apakah kamu tahu 5 huruf yang paling menyesakkan? S-A-K-I-T! Kami seperti mendapat sebuah hujaman disini, tepat dijantung kami. Iya aku tahu, perbedaan angka disetiap kelas membuat kita semakin terlepas, semakin menjauh.

Kehidupan nyata itu kejam. Karena dalam hidup ini, aku mungkin akhirnya kehilanganmu walaupun aku mencoba sangat keras untuk tidak membiarkanmu terlepas dari tanganku. Kamu menyombongkan dirimu dihadapan kamu, oke fine. Kami terima. Kamu mendapatkan teman yang lebih real, yang bisa membuatmu benar-benar melupakan kami. Oke, tak apa. Tapi apakah saat kami membutuhkan support serta pembelaanmu, kamu tak merasa berdosa karena telah membelanya dan menyindir kami? Membela 1 orang untuk kehilangan 7 orang? Luar biasa~

Kamu udah beda. Dan perbedaan ini bukan membuat semua lebih indah, justru membuat terluka. Terluka seperti saat kamu tak menganggap kami, seolah-olah kami tak terlihat. Terabaikan. Bandingkan rasa sakit 99% yang kamu berikan dari 1% kebahagiaan, apakah kamu masih bisa tak melihat kami dengan kasat mata?. Apa mungkin kamu sudah lelah dengan persahabatan ini? Dengan masing-masing karakter dari sahabat-sahabatmu? Bukankah seorang sahabat layaknya menerima kekurangan sahabatnya, membimbingnya, mensupportnya. Bahkan seorang sahabat menuntun PEMBELAAN hanya untuk merengkuh sahabatnya yang  benar-benar tak mampu lagi untuk berkata.

Dulu aku menganggap persahabatan sejati hanyalah sebuah dongeng lelucon saja, dan waktu yang menjawabnya bahwa ternyata dongeng adalah tanah mimpi! Tetapi jika mimpi itu adalah perangkap, maka waktu akan menyelinap pergi tanpa kamu ketahui. In fact, mungkin karakter “kamu” dapat tergambar dalam kata “waktu” yang menyelinap pergi itu. Meninggalkan semua orang yang masih mengharapkanmu, membutuhkanmu. Demi orang yang selalu kau anggap lebih sempurna dari para sahabatmu ini. Kami memang cacat, cacat jiwa, cacat hati. Tapi kamu tega membiarkan orang cacat ini terabaikan dan mengalihkan pandanganmu keorang yang sangat amat sempurna? Hebat~ baiklah, bukankah hidup ini pilihan? Mungkin memang aku harus menerima pilihanmu secara realita dan meninggalkan pikiran irasional yang mulai berkecamuk. Terima kasih, TEMAN :))

-Tink