Aku pernah berjanji kepada diriku sendiri, aku tak akan
pernah jatuh cinta(lagi). Karena jatuh cinta yang selama ini aku rasakan tak
pernah indah, dan tak pernah tepat. Disudut paling kiri, kau selalu duduk
disana. Terkadang didepan, namun lebih sering dibelakang. Kau tak pernah jelas.
Pertama kali aku mengenalmu, biasa saja. Tak ada apapun yang aku rasakan. Kamu begitu
nakal, hingga sering sekali dimarahi oleh guru karena tingkah lakumu yang
selalu bisa membuat orang tertawa. Aku tau, membuat orang lain dapat tertawa
karena kita adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuk kita. Aku tahu itu, dan
kamu melakukannya. Tapi terkadang, caramu salah. Seharusnya kamu bisa
memposisikan tempat dimana kamu harus membuat orang lain tertawa, dan dimana
tempat harus membuat orang lain serius. Dan aku paham, dibalik sifatmu yang
selalu nakal dikelas, kau begitu baik kepadaku. Dan diluar wajah ceriamu,
kurasa kau menyimpan sebuah misteri yang berisi sebagai nota kesedihan yang kau
miliki.
Aku ingat caramu berbicara padaku, dan aku selalu menatap
matamu saat kau melakukan itu. Tatapan mata yang begitu teduh, nyaman. Aku tak
pernah melihat fisikmu, dan aku tak perduli jua. Yang aku lihat darimu, adalah
caramu ketika berbicara padaku, rasa ingin tahumu tentang aku. Dan kini, kamu
berhasil membuat rasa cinta ini hadir untukmu. Namun yang aku sadari, mustahil
untuk aku memilikimu. Kamu tak pernah jelas, sehingga aku tak pernah tau apakah
sebenarnya kamu menyukaiku atau sebaliknya, dan kau tak pernah mengungkapkan
itu.
Aku tak mau menunggu lagi, sebelum rasa ini semakin
berlarut, aku coba untuk menghapus “kamu” dari ingatanku. Karena yang aku
pahami, perlahan-lahan harapan akan kamu pasti muncul jika aku tak cepat-cepat
menghapus rasa ini. Aku mengerti, menghapus rasa ini tidak semudah menghapus
goresan pena dibuku tulis. Aku sadar, aku tau itu. Tapi yang lebih aku
mengerti, jika goresan pena dapat dihapus, mengapa kamu tidak? Pasti ada cara
untuk aku melupakanmu, menghapusmu. Tapi sampai sekarang, tak ada dokter atau
profesor atau ilmuan sekalipun yang mampu memecahkan caranya. Dan terpaksa, aku
harus menunggu(lagi) sampai rasa ini hilang dengan sendirinya.
“mustahil” jika aku dapat mengisi kekosongan hatimu, mungkin
tidak akan mustahil dalam mimpi. “mustahil” jika tatapan yang selalu kamu
berikan untukku itu berarti kamu menyukaiku, mungkin tidak akan mustahil dalam
angan. “mustahil” jika aku tidak mengharapkanmu, dan sebenarnya aku sangat
mengharapkanmu. “mustahil” aku tidak mencintaimu, walau kenyataannya aku
benar-benar mencintaimu. “mustahil” aku
tidak memimpikanmu, dan nyatanya? Kamu selalu hadir menghiasi mimpiku. Dan “mustahil”
kamu akan menyakitiku, walau untuk kesekian kalinya tanpa kamu sadar, kamu
telah melakukan itu. Toresan luka ini pun membuatku mengerti, bahwa tak
selamanya aku harus merasakan jatuh dan terpuruk karena cinta yang tak pasti. Dan
jika kamu orang yang beruntung, kamu akan kujadikan kenangan abadi dalam hati
ini. Hanya “kenangan”, tidak lebih.
-Tink