Dia adalah manusia yang selalu bingung menentukan arah.
Belok kanan, belok kiri, atau lurus saja. Dia hanya tau dia harus terus
berjalan, tidak boleh berhenti. Sampai disatu titik, ketika sebuah kebuntuan
menghadangnya. Dari pada memilih untuk berhenti, dia memilih untuk mundur lagi
kebelakang. Karena yang penting baginya
adalah terus dan terus berjalan. Dia merasa selalu melewati jalan asing.
Mencari, entah apa. Berlari, entah untuk apa. Ratusan persimpangan dilewati, lalu di abaikan. Hingga
kerinduan menjelma menjadi bayangan sepanjang perjalanan. Untukku, semua yang
ada pada dirinya tak pernah jelas. Dia... begitu abu-abu.
Sampai suatu saat, kebodohan menyuruhku meninggalkannya. Dan aku menemukan
seseorang yang baru, yang bukan dirinya. Namun aku baru sadar, seseorang yang
dapat menggantikan sosok Dia dari diriku ternyata begitu flat, begitu putih.
Oke mungkin ini ambigu. Dan yang baru aku sadar, bahwa sosok Dia yang abu-abu
ternyata lebih menyentuh dibanding seseorang itu. Fine, ini salahku. Dulu, aku
mengharapkannya. Dan ketika dia datang untuk memenuhi harapanku, harapan itu
telah hilang. Terlambat. Yaa, bukankah satu kata itu yang tepat untuknya?. Apa
itu tandanya aku harus mencoba mencintainya(lagi) dan menggali semua rasaku
untuknya yang dulu pernah ada?, lalu bagaimana usaha kerasku untuk
melupakannya? Apa dia tidak menghargai itu? Dan ketika aku benar-benar berhasil
melupakannya, Dia menyatakannya.
-Tink
Tidak ada komentar:
Posting Komentar