Sepertinya baru
kemarin kulihat wajahmu. Kau bilang, kita akan bersama, selalu. Kau selalu
berhasil membuatku tertawa dengan tingkah humorismu, mengusir kesedihanku saat
aku mengingat apa yang terjadi dirumah. Sekolah terasa menyenangkan. Dan aku
selalu tak sabar menunggu itu saat libur panjang. Aku tak sabar mendengar
celotehanmu lagi, dan kita kembali tertawa lagi. Kau berhasil membuat kejutan
di hari specialku, membuatku seakan menjadi orang bodoh kala itu karena kau
mengerjaiku. Tapi, itu semua sangat indah. Terima kasih. Aku bahagia.
Itu semua pilihan. Aku tau
hidup memiliki dua pilihan. Dan kamu telah memilih, iya memilih dia. Ingin sekali
aku mengatakan kata “PHO” kepada orang yang berani sekali merebutmu dariku. Hahaha
tapi aku tak bisa, dia juga temanku. Dan aku tak sejahat itu. Aku tak mau
melukai orang yang telah kau pilih. Karena jika aku melukai hatinya, itu pasti
akan melukai hatimu. Dia pilihanmu. Aku bahagia karena kamu telah menemukan
seseorang pengganti aku, yang bisa lebih mengerti dirimu. Menjadi sosok sahabat
yang benar-benar kau butuh, bukan kau ingin. Aku hanya bisa mengikuti alur
permainanmu. Aku tak ingin berlarut bertengkar denganmu. Mungkin dengan cara
menjauh darimu, kita akan lebih mudah melupakan hal yang pernah ada dulu. Bahagialah
bersama pilihanmu, dan jangan pernah menyesal bila suatu saat kau salah
memilih. Itu karmamu. Dan berat untukku bilang selamat tinggal saat kurasakan
itu.
-Pihong (nama istimewa darimu dulu)
Tapi kini, hal yang aku takutkan benar-benar terjadi. I am
afraid to lose you. And then, it’s reality. Oke, dan apa daya aku tak bisa
mencegah itu. Kini aku kehilanganmu. Tak ada lagi saat-saat kita tertawa dulu. Tak
ada lagi yang dapat mengusir kesedihanku. Mungkin ditahun ini, hari yang paling
special bagiku nanti tak akan special seperti tahun kemarin lagi. Sekolah pun
terasa engga menyenangkan lagi. Dan aku rasa, tak ada kejutan lagi.
Dulu ku pikir, jarak tak dapat memutuskan persahabatan kita.
Tapi tuhan membuka mataku, dan aku sadar, aku sedang dicoba. Dan dengan jarak,
semuanya terjawab. Semuanya terlihat. Mana yang memilih untuk bertahan, dan
mana yang memilih untuk melepaskan. Kan
kulakukan apapun untuk mendengar suaramu lagi, agar kau kembali. Kesini. Kepada
sahabat-sahabatmu yang sudah mengulurkan tangannya untukmu, kau hanya tinggal
meraihnya. Tapi aku tau, kau mengabaikan uluran tangan itu dan memilih
menggenggam tangan orang lain, sahabat barumu.
Kewajibanku sebagai
sahabat aku tau belum semuanya terlaksana. Mungkin aku tak mengertimu, aku akui
kau begitu sulit untuk diterka. Seperti sebuah teka-teki. Dan kau pun tak
pernah cerita, siapa orang yang kau suka?. Kau begitu ceria, tapi mungkin,
diluar kau begitu menderita. Seperti aku. Iyaa, seperti aku. Hakmu untuk
memilih mana yang baik untukmu, hakmu untuk memilih apa yang menurutmu bisa
membuatmu bahagia, hakmu untuk memilih dia dan melepaskan sahabat-sahabatmu, hakmu
untuk memilih menjauh dariku, hakmu untuk menceritakan semua tentangku melalui
sindiran-sindiran halusmu yang ingin sekali aku membalasnya, tapi aku tak bisa.
Kita teman, kita sahabat. Seperti ada sesuatu yang melarangku membalas
sindiranmu tentangku, yaitu hatiku. Hatiku berkata bahwa seberapa kuat pun kau
membenciku, aku tak boleh membencimu.
-Pihong (nama istimewa darimu dulu)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar