Sabtu, 11 Oktober 2014

Maaf, Karena Saya Mencintai Anda.

  
Saya terjebak dalam cerita yang saya mulai sendiri. Saya selalu membiarkan Anda mengacaukan kata-kata yang sudah saya urutkan, membiarkan Anda memenggal kepala huruf-huruf yang sudah berbaris rapi itu. Entah dimulai dari kapan, dan entah bagaimana perlahan-lahan perasaan ini semakin mendalam. Dan saya baru menyadarinya sekarang. Dari dulu, ternyata hanya Anda yang mampu membuat Saya bertahan menunggu hingga sejauh ini. Maafkan Saya. Maaf. Maaf. Maaf. Maaf untuk kesalahan terbesar Saya, yaitu mencintai Anda.
 
Ini semua tentang Anda, percayalah. Tentang perasaan kehilangan seseorang… yang mencintai orang lain. Ketika Anda telah menjadi miliknya, saya hanya bisa tersenyum pilu melihatnya. Mengucapkan “Happy Anniversary” kepada Anda setiap bulannya, berusaha berbahagia karena ternyata Anda sangat mencintainya. Dan kemudian saya hanya bisa menunggu, kapan tuhan akan menarik kebahagiaan Anda dengan Dia dan lalu perlahan kalian akan berbeda langkah.

Kita tak pernah tahu pasti kapan cinta datang, bukan?
Hanya ketika merasakannya, barulah kita tahu bahwa telah tiba waktunya untuk cinta. Dan ketika Saya merasakannya, sang waktu sedang tak berpihak. Saya sadar, begitu bodohnya Saya yang saat itu terus menunggu Anda, tanpa sedikit pun Anda memahaminya. Saya sadar, betapa bodohnya Saya ketika saya masih terus menunggu Anda ketika dengan sadar pula Saya tau, Anda memilikinya. Maafkan Saya karena begitu bodoh telah mencintai Anda dalam diam, karena Hati saya adalah "Rapuh" yang sebenarnya Saya kuat-kuatkan.


Perlahan-lahan, Tuhan mulai membuka jalan dan memainkan skenarionya. Dan kini Saya tau, Anda telah benar-benar berbeda langkah dengannya. Hingga akhirnya kalian mengalami perpisahan. Dan ketika itu pula saya sadar, tak seharusnya saya bahagia karena Anda telah melepasnya. Seharusnya saya lebih memahami, Jika Anda melepasnya, bukan berarti Anda akan menjadi milik Saya. Bodohnya Saya. Anda tak pernah mengerti, bahkan memahami. bahwa sebenarnya senyum Saya hanyalah tawa yang dipura-purakan.

Jangan pernah tanya, kenapa Saya bisa mencintai Anda. Karena bila hati bisa memilih, Saya tentu akan memilih orang lain untuk Saya cintai. Bukan Anda. Saya kira bisa dengan mudah melupakan Anda. Tapi hidup kini terasa berbeda karena menjalaninya seorang diri saja. Anda pergi, dan bahagia Saya tak kembali. Dan di suatu hari tak terduga itu, Saya hanya dapat tersenyum dan menangis pilu.

Jumat, 30 Mei 2014

Lose.

Hujan dari langit membasahi hidupku, ketika kehilanganmu. Hujan dari matakku, membasahi sajakku ketika menuliskanmu. Cepat atau lambat, kelak kepergianmu ialah pahit kopi yang kusesap dengan dada tersedak-sedak. Entah siapa yang memulai hingga sejauh ini, hingga kita sedekat nadi. Sampai membuatku menjadi wanita sabar yang hanya menanti sapaanmu diujung hari, hingga kita sejauh matahari. Terkadang aku membencimu serupa suara membenci bisu, Terkadang aku merindumu serupa api merindu abu.

Pada matamu yang teduh, ada jarak yang tak mungkin dapat ku tempuh. Kita begitu jauh. Hingga seiring bergulirnya waktu, kita hanyalah kenangan lampau di masa lalu. Kini, aku belajar ikhlas melepasmu dari bagian bahagiaku. Karena yang aku tau, hidup tak selalu menuliskan cerita indah yang begitu mudah dapat aku dayung. Tetapi, terkadang hidup melukis mendung. Dan setelah mendung itu menjadi hujan. Kita akan kembali dipertemukan. Disebuah tempat yang diciptakan tuhan, yaitu ingatan.

Tik Tok jarum jam mengeja kehilangan demi kehilangan. Mungkin, kisah ini tak berakhir bahagia. Tapi aku percaya, kehilangan adalah salah satu cara yang harus ditempuh untuk mempertahankan, hingga akhirnya kita harus rela mengorbankan. Ada kata-katamu yang selalu ku ingat dalam diam, “Terkadang, mencintai ketidaksempurnaan pasangan akan membuat cinta itu lebih sempurna”

Hingga aku berfikir dan mulai yakini, bahwa mungkin sempurnamu bukan bersamaku. Hingga aku mulai mematikan lampu diremang-remang ingatanku. Mungkin kelak, aku dan kamu akan bertemu di persimpangan waktu. Dan pada saat itu, tak ada lagi “kita”, dan tak ada lagi cerita.
Hanya rindu, yang menyelinap masuk dalam keadaan diam dan membisu dengan hati yang perlahan mulai patah dan merapuh.

Kamis, 01 Mei 2014

Untuk Kamu..

Untuk kamu yang selalu membuat hal-hal semu dalam hidupku, Aku merindukanmu. Ini adalah sepatah kalimat yang tak bisa aku utarakan kepadamu, bahwa aku lelah karena masih menunggumu. Aku dan Kamu memang sudah terikat menjadi Kita, tapi bagiku.. semua itu tiada. Aku benci bila harus mengakui ini, tapi.. aku tak mendapatkan apa yang aku inginkan bila bersamamu. Aku hanya ingin kamu peduli, aku ingin kamu cemburu ketika aku menceritakan orang lain, aku ingin kamu marah, aku ingin melihat seberapa berartinya aku dimatamu. Tapi, aku tak mendapatkan hal itu darimu. Kamu begitu dingin, hingga air mataku pun tak dapat mencairkan sikap dinginmu.

Aku takut jika semua ini hanya sesaat, karena harus kuakui bahwa aku menyayangimu. Tapi bagaimana aku bisa melanjutkan perasaanku jika kamu begitu abu-abu? Hingga kebahagiaan yang kamu beri padaku kurasa begitu semu. Aku benci ini! Aku benci ketika aku harus menangis setiap kali tersakiti, aku benci setiap kali aku harus menangis ketika kamu tak perduli. Aku memilikimu, tapi aku merasa bahwa aku tak punya siapa-siapa. Aku memilikimu, tapi aku tetap merasa sepi dan sendiri.

Aku begitu ragu dengan semua ini, bahkan aku pun tak mengerti bagaimana hatimu. Yang aku mengerti hanyalah, aku harus bertahan dan memberikan kesempatan. Sampai kapan aku bertahan dengan hal yang semu dan menyakitkan?

Sesekali aku ingin melepasmu, tapi aku terlalu takut untuk kehilangan. Namun, bagaimana mungkin aku melepasmu sementara aku sudah merasa menyayangimu? Kadang, aku membaca ulang semua massage saat kita berteman dulu. Saat Aku masih menjadi Aku, dan Kamu tetap Kamu. Itu semua begitu indah, hinggal hal kecil dari semua itu dapat membuat aku tertawa karenamu. Tapi apakah kamu tau apa yang aku rasakan setelah Aku dan Kamu telah menjadi Kita?

Kamu, selalu membuat air mata menetes bahkan ketika aku enggan meneteskannya.

Jumat, 07 Februari 2014

Jika.

Mengapa cinta membuatku mencintaimu ketika pada saat yang sama kau mencintai orang lain yang bukan aku? Jika kamu tau, aku sudah berusaha melupakan kamu yang memenuhi ruang terpencil di otakku. Tapi nyatanya gagal. Aku tak bisa melakukan itu. Aku fikir, rasa ini tak akan pernah lebih dalam dari sebelumnya. Tapi ternyata aku salah, saat ini aku sudah teralu dalam mencintaimu. Rasanya aku selalu ingin menangis ketika melihatmu, karena aku sadar kamu tidak mungkin mencintaiku. Kamu mencintai dia, bukan aku. Dan kubiarkan rasa ini menyakitiku. Karena melihatmu tersenyum, adalah kebahagiaan yang sederhana bagiku. Bukankah itu yang dilakukan setiap wanita? Melihatmu tersenyum saja aku sudah bahagia.

Bahagiamu adalah dia. Teruslah melangkah ke depan, jangan melangkah mundur kebelakang. Karena kamu akan melihatku disana. Dan bila hal itu terjadi, aku takut kamu mengabaikanku, melewatkanku begitu saja. Dia lebih sempurna. Aku mengerti, dan aku bukan gadis tak tahu diri yang tidak sadar akan hal itu. Dan satu hal yang lebih aku mengerti dari laki-laki, dia selalu melihat seorang wanita dari fisiknya, bukan dari hatinya. Padahal wanita terkenal akan perasaannya yang begitu lembut. Tetapi disini, orang yang  jauh tidak cantik dan tidak sempurna akan terbengkalai oleh orang lain yang “lebih” sempurna darinya. Bukankah hidup seperti itu?

Jika boleh berkata jujur, aku tidak bahagia melihatmu bahagia bersamanya. Hanya orang-orang munafik yang berkata bahwa dirinya akan bahagia melihat orang yang dia cintai bahagia bersama orang lain yang bukan dirinya. dan aku, tidak merasakan hal itu ketika melihatmu bersamanya. Tetapi ada satu hal yang aku rasakan, simalakama. Kamu tidak pernah melihat kesini, kearahku. Sini, aku tunjukkan kebahagiaan yang tidak semu. Tetapi kamu lebih memilih menjauh dariku dan mendekat kearahnya. Mungkin, kebahagiaanmu memang jika bersamanya. Dan aku akan merasa memilikimu ketika aku sedang berjika-jika. Jika saja kamu mencintaiku seperti aku mencintaimu, Jika saja aku dan kamu dapat menjadi “kita”, Jika saja kamu tak mengenalnya dan kamu mengenal aku, Jika saja kamu memilihku dan mengabaikannya, Jika saja kamu sedikit lebih peka, Jika saja kamu membuat rasa ini bahagia melebihi kebahagiaanku. Tetapi, semua hanya angan semu.

Karena itu semua, hanya “Jika”.

                                                                                                                                                          -Tink

Senin, 13 Januari 2014

Impossible.

Aku pernah berjanji kepada diriku sendiri, aku tak akan pernah jatuh cinta(lagi). Karena jatuh cinta yang selama ini aku rasakan tak pernah indah, dan tak pernah tepat. Disudut paling kiri, kau selalu duduk disana. Terkadang didepan, namun lebih sering dibelakang. Kau tak pernah jelas. Pertama kali aku mengenalmu, biasa saja. Tak ada apapun yang aku rasakan. Kamu begitu nakal, hingga sering sekali dimarahi oleh guru karena tingkah lakumu yang selalu bisa membuat orang tertawa. Aku tau, membuat orang lain dapat tertawa karena kita adalah suatu kebahagiaan tersendiri untuk kita. Aku tahu itu, dan kamu melakukannya. Tapi terkadang, caramu salah. Seharusnya kamu bisa memposisikan tempat dimana kamu harus membuat orang lain tertawa, dan dimana tempat harus membuat orang lain serius. Dan aku paham, dibalik sifatmu yang selalu nakal dikelas, kau begitu baik kepadaku. Dan diluar wajah ceriamu, kurasa kau menyimpan sebuah misteri yang berisi sebagai nota kesedihan yang kau miliki.

Aku ingat caramu berbicara padaku, dan aku selalu menatap matamu saat kau melakukan itu. Tatapan mata yang begitu teduh, nyaman. Aku tak pernah melihat fisikmu, dan aku tak perduli jua. Yang aku lihat darimu, adalah caramu ketika berbicara padaku, rasa ingin tahumu tentang aku. Dan kini, kamu berhasil membuat rasa cinta ini hadir untukmu. Namun yang aku sadari, mustahil untuk aku memilikimu. Kamu tak pernah jelas, sehingga aku tak pernah tau apakah sebenarnya kamu menyukaiku atau sebaliknya, dan kau tak pernah mengungkapkan itu.

Aku tak mau menunggu lagi, sebelum rasa ini semakin berlarut, aku coba untuk menghapus “kamu” dari ingatanku. Karena yang aku pahami, perlahan-lahan harapan akan kamu pasti muncul jika aku tak cepat-cepat menghapus rasa ini. Aku mengerti, menghapus rasa ini tidak semudah menghapus goresan pena dibuku tulis. Aku sadar, aku tau itu. Tapi yang lebih aku mengerti, jika goresan pena dapat dihapus, mengapa kamu tidak? Pasti ada cara untuk aku melupakanmu, menghapusmu. Tapi sampai sekarang, tak ada dokter atau profesor atau ilmuan sekalipun yang mampu memecahkan caranya. Dan terpaksa, aku harus menunggu(lagi) sampai rasa ini hilang dengan sendirinya.

“mustahil” jika aku dapat mengisi kekosongan hatimu, mungkin tidak akan mustahil dalam mimpi. “mustahil” jika tatapan yang selalu kamu berikan untukku itu berarti kamu menyukaiku, mungkin tidak akan mustahil dalam angan. “mustahil” jika aku tidak mengharapkanmu, dan sebenarnya aku sangat mengharapkanmu. “mustahil” aku tidak mencintaimu, walau kenyataannya aku benar-benar mencintaimu.  “mustahil” aku tidak memimpikanmu, dan nyatanya? Kamu selalu hadir menghiasi mimpiku. Dan “mustahil” kamu akan menyakitiku, walau untuk kesekian kalinya tanpa kamu sadar, kamu telah melakukan itu. Toresan luka ini pun membuatku mengerti, bahwa tak selamanya aku harus merasakan jatuh dan terpuruk karena cinta yang tak pasti. Dan jika kamu orang yang beruntung, kamu akan kujadikan kenangan abadi dalam hati ini. Hanya “kenangan”, tidak lebih.

-Tink

Sabtu, 11 Januari 2014

Memilih untuk Melepaskan.

Sepertinya baru kemarin kulihat wajahmu. Kau bilang, kita akan bersama, selalu. Kau selalu berhasil membuatku tertawa dengan tingkah humorismu, mengusir kesedihanku saat aku mengingat apa yang terjadi dirumah. Sekolah terasa menyenangkan. Dan aku selalu tak sabar menunggu itu saat libur panjang. Aku tak sabar mendengar celotehanmu lagi, dan kita kembali tertawa lagi. Kau berhasil membuat kejutan di hari specialku, membuatku seakan menjadi orang bodoh kala itu karena kau mengerjaiku. Tapi, itu semua sangat indah. Terima kasih. Aku bahagia.

Tapi kini, hal yang aku takutkan benar-benar terjadi. I am afraid to lose you. And then, it’s reality. Oke, dan apa daya aku tak bisa mencegah itu. Kini aku kehilanganmu. Tak ada lagi saat-saat kita tertawa dulu. Tak ada lagi yang dapat mengusir kesedihanku. Mungkin ditahun ini, hari yang paling special bagiku nanti tak akan special seperti tahun kemarin lagi. Sekolah pun terasa engga menyenangkan lagi. Dan aku rasa, tak ada kejutan lagi.

Dulu ku pikir, jarak tak dapat memutuskan persahabatan kita. Tapi tuhan membuka mataku, dan aku sadar, aku sedang dicoba. Dan dengan jarak, semuanya terjawab. Semuanya terlihat. Mana yang memilih untuk bertahan, dan mana yang memilih untuk melepaskan. Kan kulakukan apapun untuk mendengar suaramu lagi, agar kau kembali. Kesini. Kepada sahabat-sahabatmu yang sudah mengulurkan tangannya untukmu, kau hanya tinggal meraihnya. Tapi aku tau, kau mengabaikan uluran tangan itu dan memilih menggenggam tangan orang lain, sahabat barumu.

Kewajibanku sebagai sahabat aku tau belum semuanya terlaksana. Mungkin aku tak mengertimu, aku akui kau begitu sulit untuk diterka. Seperti sebuah teka-teki. Dan kau pun tak pernah cerita, siapa orang yang kau suka?. Kau begitu ceria, tapi mungkin, diluar kau begitu menderita. Seperti aku. Iyaa, seperti aku. Hakmu untuk memilih mana yang baik untukmu, hakmu untuk memilih apa yang menurutmu bisa membuatmu bahagia, hakmu untuk memilih dia dan melepaskan sahabat-sahabatmu, hakmu untuk memilih menjauh dariku, hakmu untuk menceritakan semua tentangku melalui sindiran-sindiran halusmu yang ingin sekali aku membalasnya, tapi aku tak bisa. Kita teman, kita sahabat. Seperti ada sesuatu yang melarangku membalas sindiranmu tentangku, yaitu hatiku. Hatiku berkata bahwa seberapa kuat pun kau membenciku, aku tak boleh membencimu.

Itu semua pilihan. Aku tau hidup memiliki dua pilihan. Dan kamu telah memilih, iya memilih dia. Ingin sekali aku mengatakan kata “PHO” kepada orang yang berani sekali merebutmu dariku. Hahaha tapi aku tak bisa, dia juga temanku. Dan aku tak sejahat itu. Aku tak mau melukai orang yang telah kau pilih. Karena jika aku melukai hatinya, itu pasti akan melukai hatimu. Dia pilihanmu. Aku bahagia karena kamu telah menemukan seseorang pengganti aku, yang bisa lebih mengerti dirimu. Menjadi sosok sahabat yang benar-benar kau butuh, bukan kau ingin. Aku hanya bisa mengikuti alur permainanmu. Aku tak ingin berlarut bertengkar denganmu. Mungkin dengan cara menjauh darimu, kita akan lebih mudah melupakan hal yang pernah ada dulu. Bahagialah bersama pilihanmu, dan jangan pernah menyesal bila suatu saat kau salah memilih. Itu karmamu. Dan berat untukku bilang selamat tinggal saat kurasakan itu.

-Pihong (nama istimewa darimu dulu)

Selasa, 07 Januari 2014

Dia.

Dia adalah manusia yang selalu bingung menentukan arah. Belok kanan, belok kiri, atau lurus saja. Dia hanya tau dia harus terus berjalan, tidak boleh berhenti. Sampai disatu titik, ketika sebuah kebuntuan menghadangnya. Dari pada memilih untuk berhenti, dia memilih untuk mundur lagi kebelakang. Karena yang penting  baginya adalah terus dan terus berjalan. Dia merasa selalu melewati jalan asing. Mencari, entah apa. Berlari, entah untuk apa. Ratusan persimpangan dilewati, lalu di abaikan. Hingga kerinduan menjelma menjadi bayangan sepanjang perjalanan. Untukku, semua yang ada pada dirinya tak pernah jelas. Dia... begitu abu-abu.
 
Sampai suatu saat, kebodohan menyuruhku meninggalkannya. Dan aku menemukan seseorang yang baru, yang bukan dirinya. Namun aku baru sadar, seseorang yang dapat menggantikan sosok Dia dari diriku ternyata begitu flat, begitu putih. Oke mungkin ini ambigu. Dan yang baru aku sadar, bahwa sosok Dia yang abu-abu ternyata lebih menyentuh dibanding seseorang itu. Fine, ini salahku. Dulu, aku mengharapkannya. Dan ketika dia datang untuk memenuhi harapanku, harapan itu telah hilang. Terlambat. Yaa, bukankah satu kata itu yang tepat untuknya?. Apa itu tandanya aku harus mencoba mencintainya(lagi) dan menggali semua rasaku untuknya yang dulu pernah ada?, lalu bagaimana usaha kerasku untuk melupakannya? Apa dia tidak menghargai itu? Dan ketika aku benar-benar berhasil melupakannya, Dia menyatakannya.

-Tink