Hujan dari langit membasahi hidupku, ketika kehilanganmu. Hujan
dari matakku, membasahi sajakku ketika menuliskanmu. Cepat atau lambat, kelak
kepergianmu ialah pahit kopi yang kusesap dengan dada tersedak-sedak. Entah siapa
yang memulai hingga sejauh ini, hingga kita sedekat nadi. Sampai membuatku
menjadi wanita sabar yang hanya menanti sapaanmu diujung hari, hingga kita
sejauh matahari. Terkadang aku membencimu serupa suara membenci bisu, Terkadang
aku merindumu serupa api merindu abu.
Pada matamu yang teduh, ada jarak yang tak mungkin dapat ku
tempuh. Kita begitu jauh. Hingga seiring bergulirnya waktu, kita hanyalah
kenangan lampau di masa lalu. Kini, aku belajar ikhlas melepasmu dari bagian
bahagiaku. Karena yang aku tau, hidup tak selalu menuliskan cerita indah yang
begitu mudah dapat aku dayung. Tetapi, terkadang hidup melukis mendung. Dan setelah
mendung itu menjadi hujan. Kita akan kembali dipertemukan. Disebuah tempat yang
diciptakan tuhan, yaitu ingatan.
Tik Tok jarum jam mengeja kehilangan demi kehilangan. Mungkin,
kisah ini tak berakhir bahagia. Tapi aku percaya, kehilangan adalah salah satu
cara yang harus ditempuh untuk mempertahankan, hingga akhirnya kita harus rela
mengorbankan. Ada kata-katamu yang selalu ku ingat dalam diam, “Terkadang,
mencintai ketidaksempurnaan pasangan akan membuat cinta itu lebih sempurna”
Hingga aku berfikir dan mulai yakini, bahwa mungkin
sempurnamu bukan bersamaku. Hingga aku mulai mematikan lampu diremang-remang
ingatanku. Mungkin kelak, aku dan kamu akan bertemu di persimpangan waktu. Dan pada
saat itu, tak ada lagi “kita”, dan tak ada lagi cerita.
Hanya rindu, yang menyelinap masuk dalam keadaan diam dan
membisu dengan hati yang perlahan mulai patah dan merapuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar