Sudah lama sekali aku tidak memainkan jemari untuk kembali
menulis disini. Entahlah, mungkin saat itu perasaanku sedang kalut. Hanya ingin
berdiam diri dengan degup jantung sebagai musik pengantar tidur. Seperti halnya
kali ini, aku menulis ini bukan dalam keadaan bahagia namun aku menulis ini
dalam keadaan 360 derajat berbanding balik dengan kata “bahagia”. Diawal bulan
Agustus ini, sepertinya semua harapanku tak terkabul. Harapan untuk tak ada
lagi yang saling membenci, saling membully. Kami saling menyayangi, aku tahu.
Tapi, pemandangan di depanku ini seakan
memberi kenyataan yang lain.
Satu persatu dari kami mulai menjauh, mulai menghilang
diantara kepulan asap hitam yang begitu menyakitkan. Apakah kamu tau Definisi
sakit? Devinisi khawatir?, khawatir akan keutuhan persahabatan yang sudah kita
jalin selama satu tahun ini. Bukankah sia-sia jika kita mengganjilkan maknanya?
Itupun tak akan pernah merubah keputusanmu untuk memilihnya, bukan memilih
kami. Apakah kamu tahu 5 huruf yang paling menyesakkan? S-A-K-I-T! Kami seperti
mendapat sebuah hujaman disini, tepat dijantung kami. Iya aku tahu, perbedaan
angka disetiap kelas membuat kita semakin terlepas, semakin menjauh.
Kehidupan nyata itu kejam. Karena dalam hidup ini, aku
mungkin akhirnya kehilanganmu walaupun aku mencoba sangat keras untuk tidak
membiarkanmu terlepas dari tanganku. Kamu menyombongkan dirimu dihadapan kamu,
oke fine. Kami terima. Kamu mendapatkan teman yang lebih real, yang bisa
membuatmu benar-benar melupakan kami. Oke, tak apa. Tapi apakah saat kami
membutuhkan support serta pembelaanmu, kamu tak merasa berdosa karena telah
membelanya dan menyindir kami? Membela 1 orang untuk kehilangan 7 orang? Luar
biasa~
Kamu udah beda. Dan perbedaan ini bukan membuat semua lebih
indah, justru membuat terluka. Terluka seperti saat kamu tak menganggap kami,
seolah-olah kami tak terlihat. Terabaikan. Bandingkan rasa sakit 99% yang kamu
berikan dari 1% kebahagiaan, apakah kamu masih bisa tak melihat kami dengan
kasat mata?. Apa mungkin kamu sudah lelah dengan persahabatan ini? Dengan
masing-masing karakter dari sahabat-sahabatmu? Bukankah seorang sahabat
layaknya menerima kekurangan sahabatnya, membimbingnya, mensupportnya. Bahkan
seorang sahabat menuntun PEMBELAAN hanya untuk merengkuh sahabatnya yang benar-benar tak mampu lagi untuk berkata.
Dulu aku menganggap persahabatan sejati hanyalah sebuah
dongeng lelucon saja, dan waktu yang menjawabnya bahwa ternyata dongeng adalah
tanah mimpi! Tetapi jika mimpi itu adalah perangkap, maka waktu akan menyelinap
pergi tanpa kamu ketahui. In fact, mungkin karakter “kamu” dapat tergambar
dalam kata “waktu” yang menyelinap pergi itu. Meninggalkan semua orang yang
masih mengharapkanmu, membutuhkanmu. Demi orang yang selalu kau anggap lebih
sempurna dari para sahabatmu ini. Kami memang cacat, cacat jiwa, cacat hati.
Tapi kamu tega membiarkan orang cacat ini terabaikan dan mengalihkan
pandanganmu keorang yang sangat amat sempurna? Hebat~ baiklah, bukankah hidup
ini pilihan? Mungkin memang aku harus menerima pilihanmu secara realita dan
meninggalkan pikiran irasional yang mulai berkecamuk. Terima kasih, TEMAN :))
-Tink
Tidak ada komentar:
Posting Komentar